Bebas Memilih Takdir

•September 9, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Bebas Memilih Takdir

Apakah saat ini anda sudah merasa sukses? Bahagiakah dengan kehidupan 
anda saat ini? Sudah tercapaikah semua yang anda impikan?Kira- kira 
kehidupan seperti apa yang ingin anda jalani? Bagaimana beranjak dari 
keadaan saat ini menuju keadaan Anda yang lebih baik? Apa saja yang 
harus anda perbuat untuk untuk memperbaiki kehidupan Anda sekarang?
Sejumlah pertanyaan ini menunggu untuk kita renungkan bersama. 
Pertanyaan-pertanya an ini akan menjadi kunci dalam mengembangkan dan 
memaknai kembali hidup kita. Cobalah kita renungkan dengan mendalam 
apa saja yang sudah kita lewati dan terlewatkan oleh kita.

Sebenarnya apa yang kita harapkan di dunia ini? Apakah harta, 
kekuasaan atau jabatan? Cobalah tanya pada hati kita masing-masing. 
Adakah dengan harta hidup kita pasti tenang dan tentram? Sekiranya 
kita diberi jabatan dan kekuasaan, apakah menjadi jaminan kita bisa 
hidup dengan tenang?

Sekiranya boleh memberikan benang merah, apakah itu harta, kekayaan, 
kekuasaan jabatan semuanya tidak akan memberikan ketenangan hidup, 
kecuali kita bisa merasakan manfaat dan bahagia atas itu semua.

Selama kita beraktifitas sepanjang hari, kita bertemu dengan beragam 
tipikal manusia, ada orang kaya pemilik perusahaan-perusaha an besar, 
profesional yang sangat rapi dan berdasi, namun tidak sedikit dari 
saudara-saudara kita yang ternyata kurang beruntung secara finansial 
harus menjadi pengemis, pengangguran, atau bahkan melakukan tindak 
kriminal.

Kita juga sering mendengarkan atau membaca kisah sukses yang 
mengagumkan dari orang-orang seperti Bill Gates yang sukses dengan 
microsoftnya dan begitu juga Colonel Sanders dengan KFCnya, Ray Kroc 
dengan McDonaldnya.

Sebenarnya apakah yang membedakan mereka mereka yang sukses dan kaya 
dengan kita? Apakah mereka memang memilih untuk sukses atau memang 
sudah dilahirkan dalam keadaan kaya dan sukses?

Sebelumnya, pernahkah terpikir bahwa rasul dan para sahabat Nabi dan 
imam besar di waktu itu adalah orang yang sukses dan kaya raya. Pada 
usia yang relatif muda, Muhammad SAW dengan berbekal 22 ekor unta muda 
sebagai mas kawin pada saat meminang Khadijah untuk sebagai istrinya. 
Bayangkan betapa suksesnya bisnis beliau di usia 25 tahun. Kesuksesan 
Muhammad SAW tidak saja diakui dikalangan muslim saja, bahkan dunia 
mencatat keberhasilannya di segala bidang. Sebuah paduan kesuksesan 
dalam hal intelektualitas, religius dan militer secara bersamaan. 
Tidak ada seorang pun yang meragukannya.

Professor Jules Masserman, berpendapat bahwa Pasteur dan Salk adalah 
pemimpin dalam satu hal (intelektualitas- pen). Gandhi dan Konfusius 
pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada 
kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer-pen. ).Jesus dan Buddha 
mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang 
masa adalah Muhammad, yang sukses pada ketiga kategori sekaligus.

Bahkan karena kesuksesannya tersebut Beliau dinobatkan sebagai 
Pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah kehidupan oleh Michael H 
Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of The Most Influential Person 
in History.
Michael Hart berkata :
“Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin 
mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses 
baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33).

Seorang ahli sejarah Lamar tine, dalam Histori de la Turquie 
menyatakan “Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. 
Namun, dari orang orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu 
atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran 
orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu 
banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya 
hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran 
kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi 
ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.
Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad SAW telah begitu tinggi 
menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam 
sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan 
pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan 
dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu 
terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para 
pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya.
Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, 
administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami 
yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang – semua menjadi satu. 
Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya 
dalam setiap aspek kehidupan tersebut – hanya dengan kepribadian 
seperti dialah keagungan seperti ini dapat diraih.”

Pernahkah kita berpikir untuk mengikuti jejak beliau? Menjadikannya 
sebagi idola atau tokoh favorit untuk menjadi suri teladan kita dalam 
hidup ini?
Jika suatu saat anda harus mengungsi di suatu daerah yang sama sekali 
anda tidak kenal, tanpa uang sepeserpun di tangan. Kemudian datanglah 
seorang konglomerat lokal menawarkan separuh dari asetnya buat anda. 
Kira-kira apakah akan anda terima sebagai wujud syukur atas rejeki 
dari Allah atau akan ada tolak karena waktu datang pertama kali sudah 
bertekad bulat ingin merintis usaha sendiri? Apakah kira-kira dengan 
cara begitu Anda akan sukses?
Berabad-abad yang lalu kejadian ini pernah terjadi pada salah seorang 
sahabat Nabi Muhammad SAW. Siapa yang tak kenal dengan Abdurrahman bin 
Auf. Dikisahkan bahwa beliau adalah seorang entrepreneur sukses yang 
memiliki kecakapan dan insting berbisnis yang luar biasa. Saking 
jagonya dia berbisnis hingga dikatakan bahwa hartalah yang datang 
menghampiri mereka. Hal ini seperti perkataan abdurrahman Bin Auf yang 
berbunyi :”Saya tidak mengangkat batu, kecuali dibawahnya ada emas dan 
perak”

Beliau adalah tokoh populer sebagai sosok sahabat Rasulullah SAW yang 
terkenal dengan kemandiriannya dalam berbisnis.
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman Bin Auf dipersaudarakan dengan 
Sa’ad Bin Rabi’ Al Anshori, salah seorang kaya yang pemurah di 
Madinah. Pada saat itu Abdurrahman bin Auf sudah tidak memiliki 
apa-apa lagi. Suatu ketika Sa’d menawarkan hartanya akan dibagi dua, 
namun Abdurrahman menolak. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. 
Dan disanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak 
berapa lama, dengan kecakapannya berdagang ia telah mendapatkan 
kekayaannya kembali. Bahkan hingga memiliki kafilah-kafilah yang pergi 
dan pulang membawa perdagangan. Selain Abdurrahman, dari kaum 
Muhajirin banyak juga yang telah melakukan hal yang sama. Sebenarnya 
karena kepandaian orang-orang Mekah itu dalam bidang perdagangan 
sampai ada orang yang mengatakan : dengan perdagangannya itu ia dapat 
mengubah pasir sahara menjadi emas.

Kunci sukses Abdurrahman adalah selalu berada di empat tempat. Di 
masjid untuk melakukan ibadah kepada Tuhan-Nya, di pasar untuk 
berbisnis, kemudian di rumah bersama keluarganya dan di medan perang. 
Seusai perang Badar, ia aktif kembali mengelola bisnisnya yang kian 
besar.
Sebenarnya apa yang membedakannya dengan kita? Apakah sukses itu 
dipilih dan diraih ataukah beliau memang dilahirkan untuk sukses?

Contoh lain yang mungkin banyak kita tidak tahu adalah Konon Imam Abu 
Hanifah, selain sebagai imam mahdzab yang faqih dalam agama adalah 
seorang entrepreneur yang sukses. Abu Hanifah mengawali aktifitas 
entrepreneurnya dengan berjualan roti di pasar sampai pada akhirnya 
memiliki jasa keuangan

Dengan kepandaiannya, beliau mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan 
islam kepada semua kalangan. Dan dengan bisnisnya yang luar biasa 
besarnya itu, beliau juga bisa memberikan beasiswa kepada seluruh 
murid-muridnya bahkan sampai keluar negeri dengan biaya penuh 
darinya.Dan jangan ditanya, assetnya pada saat itu jika dikurskan 
dengan nilai sekarang mencapai 1.7 trilliun.

Bagaimana beliau bisa sedemikian sukses? Apakah memang telah 
direncanakan Tuhan dari saat beliau dilahirkan ataukah sukses 
merupakan jalan yang dipilihnya? Sebenarnya apa yang membedakannya 
dengan kita? Apakah sukses itu dipilih dan diraih ataukah beliau 
memang dilahirkan untuk sukses?

Dalam era kekinian, pernahkah anda mendengar nama Muhammad Yunus 
dengan Grameen Bank? Beliau adalah pemenang Nobel Perdamaian 2006 atas 
usahanya yang tidak mengenal lelah mengentaskan kemiskinan di 
Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank, bank khusus untuk dan milik 
orang miskin.

Beliau awalnya hanyalah seorang professor di Fakultas Ekonomi 
Chittagong, yang sangat tersentuh hatinya tatkala melihat kenyataan 
hidup diluar. ketika Bangladesh terkena bencana kelaparan. Ia sangat 
terkejut menemui kenyataan bahwa keluarga miskin di sekitar kampusnya 
sebetulnya hanya butuh bantuan uang sangat sedikit untuk dapat 
mengubah hidup mereka. Ketika beliau memutuskan untuk membantu para 
ibu yang miskin tersebut dengan meminjaminya uang untuk modal kerja. 
Tak kurang dari 42 orang senasib berhasil dikumpulkan dengan jumlah 
pinjaman kurang dari US$27! oleh Muhammad Yunus. “Ya, Tuhan! Ya Tuhan! 
Seluruh derita semua keluarga itu hanya karena tidak ada uang dua 
puluh tujuh dollar!” serunya dalam hati. Malamnya ia tidak bisa tidur 
karena merasa muak dengan dirinya sendiri. Ia sangat shock menemui 
kenyataan betapa ia mengajarkan teori-teori indah tentang ekonomi dan 
bicara tentang uang ratusan juta dollar sementara di luar kampusnya ia 
menemui orang-orang yang begitu miskinnya karena terjerat oleh 
rentenir. Beliau kemudian memutuskan untuk mendirikan Grameen Bank, 
Bank for the Poor, untuk membantu para orang miskin tersebut.

Tanpa rasa ketakutan bahwa orang miskin yang diberi pinjaman tersebut 
akan mengemplang layaknya “bos-bos penggelap dana BLBI” grameen bank 
terus berkembang hingga Pada tahun 2006 , tiga puluh tahun setelah 
menapakkan langkah pertamanya di Jobra, Dhaka, Bangladesh, Grameen 
Bank telah menjadi bank independen dengan 1.181 cabang yang bekerja di 
42.127 desa dengan staf sebanyak 11.777 orang. Grameen Bank kini telah 
melesat dan merambah ke berbagai sektor. Kini ada Grameen Phone dan 
Grameen Telecom, jaringan seluler nasional dengan 850.000 pelanggan 
dimana 24.000 adalah ponsel desa yang dioperasikan oleh ‘ibu-ibu 
ponsel’. Padahal tahun 1997 di seluruh Bangladesh, yang memiliki 
populasi sebear 120 juta, baru ada 97.000 SST sehingga memiliki ponsel 
adalah kemewahan luar biasa saat itu.

Sebenarnya apakah yang membedakan mereka- mereka yang sukses dengan 
kita? Apakah mereka memang memilih untuk sukses atau memang sudah 
dilahirkan dalam keadaan kaya dan sukses?

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Namun 
apakah kita semua menyadarinya dan dengan penuh kesadaran dan 
bertindak dengan tepat?. Jika kita diciptakan dengan begitu 
sempurnanya, kenapa ada yang sukses, ada yang gagal, ada yang miskin 
ada yang kaya dan ada pula yang menyerah ditengah jalan.
Jadi sebenarnya apakah manusia diberi kebebasan memilih atau hanya 
menjalankan peran yang diberikan? Adakah kemungkinan diberi kesempatan 
mengubah peran tersebut di tengah jalan atau sekedar mengalir laksana 
air?

Mulailah bertanya pada diri sendiri ; Apakah kita merasa dipaksa oleh 
seseorang atau sesuatu untuk memilih pekerjaan yang saat ini kita 
geluti , apakah kita memilih pasangan hidup yang kita inginkan? dan 
berbagai pertanyaan serupa lainnya. Dari sini akan tampak jelas 
jawaban tentang apakah kita memang benar-benar bebas memilih atau 
sudah ditentukan?.
Mari kita telaah kembali Firman Allah,
“Artinya : Maka barangsiapa menghendaki, maka dia mengambil jalan 
menuju Rabb-Nya”
[An-Naba : 39]
Dan firman Allah.
“Artinya : Sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki dunia dan 
sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki akhirat”
[Ali-Imran : 152]
Dan firman Allah.
“Artinya : Barangsiapa menghendaki akhirat dan menempuh jalan 
kepadanya dan dia beriman, maka semua perbuatannya disyukuri 
(diterima)”. [Al-Isra' : 19]
Dengan kita berkehendak dan menentukan pilihan, maka sebenarnya kita 
telah ikut andil dalam proses perencanaan terhadap pencapaian pilihan 
tersebut oleh kekuatan yang lebih besar.
Saat kita memilih dan berencana pada hakikatnya kita telah mengetuk 
salah satu pintu dari banyak pintu yang tersedia. Dan hanya Allahlah 
pemilik segala pintu, dan dengan kuasa-Nyalah pintu tersebut akan 
terbuka.

Kebetulan itu tidak ada di dunia ini, semuanya telah terencana dengan 
sempurna, hanya saja apakah kita mampu menangkap pilihan yang tepat 
atau tidak.

Sesungguhnya segala perbuatan dan tindakan yang kita lakukan dengan akal sehat
merupakan hasil dari kebebasan memilih

Mulai saat ini yakinlah bahwa semua yang membutuhkan peranan 
akal/pikiran sehat adalah pilihan. Begitu juga dengan hidup, hidup 
seperti apa yang ingin kita ciptakan merupakan pilihan kita 
masing-masing. Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana memilih 
peran, tujuan yang tepat dengan segala apa yang kita punya.

Jangan pernah lupa bahwa kita diberikan modal paling lengkap dibanding 
makhluk lainnya.Bayangkanla h seekor cacing dalam mengarungi hidup, 
tanpa tangan dan kaki dia tetap sanggup bertahan hidup. Tidak pernah 
kita mendengar ada cacing yang “menyerah” kepada kehidupan. Bahkan 
saat cacing kita tangkap untuk umpan memancing ikan, sampai titik 
darah penghabisan dia berusaha melarikan diri dan bertahan hidup.

Atau belajarlah dari induk burung. Dengan segala susah payah dia 
mencari makanan untuk anak-anaknya dalam sangkar. Jikapun dia belum 
mendapatkan makanan, dengan perut keroncongan dia tetap bersemangat 
berusaha mencari makanan untuk kelangsungan hidup anak-anaknya. Tidak 
pernah kita dengar sebuah burung “bunuh diri” dengan menjatuhkan diri 
ke tebing yang curam. Bayangkan.

Jika kita berpikir kita bisa, maka kita telah memilih untuk bisa 
mengerjakannya. Pada saat kita merencanakan sesuatu maka sebenarnya 
kita telah mengambil keputusan untuk berhasil meraihnya. Disaat kita 
menginginkan sesuatu sebenarnya kita telah memilihnya untuk kita miliki.
Sadarilah mulai saat ini, sukses adalah pilihan dan hak setiap orang. 
Bahkan sukses adalah default setting atas penciptaan kita. Saya, Anda, 
atau siapa pun dia memiliki hak yang sama untuk meraih kesuksesan.

Bahkan setiap orang memiliki kesempatan dan peluang yang sama. Setiap 
orang tanpa terkecuali diberi waktu 24 jam dalam sehari untuk 
mewujudkan segala cita-cita dan harapannya. Selain waktu, Tuhan juga 
memberi bekal yang sangat komplit untuk meraih kesuksesan, kita diberi 
akal pikiran dimana dengannya kita berpikir dan menganalisa masalah 
serta belajar dari setiap kejadian.

Kita dibekali oleh hati dan perasaan untuk membedakan mana yang benar 
dan salah, kita diberkati dengan keluarga yang selalu mendukung dan 
mendoakan serta tentunya ridla dari penguasa alam semesta Allah SWT.
Jika sudah demikian adanya, kenapa kita takut gagal. Kita seharusnya 
sukses dengan modal selengkap itu melebihi kesuksesan makhluk yang lain.
Sukses tidak hanya tercapainya suatu target, lebih dari perkembangan 
menuju tingkat yang lebih baik dari hari sebelumnya. Anda pun bisa 
menjadi lebih sukses, lebih sejahtera, dan lebih bahagia karenanya.

Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal 
di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas. (Imam Ali bin Abi 
Thalib)

(Diambil dari Muhammad’s Hidden Treasure : 8 Rahasia menuju sukses tanpa batas
www.suksestanpabata s.com)

Plurk timeline

•September 9, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bangga Menjadi Indonesian

•September 7, 2008 • & Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!